Mas Tamvan on Facebook!

>

Katekese Lumpur Lapindo

blogger templates
SELASA pagi, 25 Mei 2011, cuaca cerah. Lalu lintas di depan gedung Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) lengang. Di ruang kerjanya, Sekretaris Komisi Kateketik KWI Pastor Franciscus Xaverius Adisusanto SJ berkenan menerima HIDUP untuk menjawab pertanyaan tentang peran katekis dalam usaha kemandirian Gereja. Ia mengenakan baju warna putih dan celana panjang hitam. Petikannya:

Apa pengertian Gereja mandiri menurut Romo?

Gereja mandiri adalah Gereja yang mandiri bukan hanya dalam hal keuangan tapi juga mandiri dalam karya-karya lainnya. Ada tiga karya kewenangan Gereja, yaitu pelayanan sakramen, pewartaan, dan penggembalaan. Dalam ketiga karya tersebut, diharapkan Gereja bisa hidup dan menjalankan tugasnya tanpa tergantung pada pihak luar.

Peranan para katekis dalam karya tersebut?

Katekis diharapkan memfokuskan diri pada suatu bidang sesuai kemampuannya, yaitu membantu para imam dalam bidang pewartaan. Tugas penggembalaan bisa dilaksanakan oleh dewan paroki dan para pimpinan wilayah. Kadang ada juga katekis yang merangkap sebagai pimpinan wilayah atau stasi. Keterlibatannya tersebut dapat diartikan turut ambil bagian dalam karya penggembalaan. Dalam karya pelayanan sakramen, katekis juga bisa turut serta ambil bagian sebagai petugas upacara sakramen, membantu imam.

Katekis bisa dijadikan penggerak kemandirian Gereja?

Bisa saja. Salah satu cara memandirikan Gereja adalah dengan menciptakan dan mengembangkan kelompok Basis Gerejawi (KBG). Dalam KBG, umat diajak membina kebersamaan dengan umat lain dalam suatu paguyuban kecil. Dalam KBG tersebut, katekis bisa mengajak umat untuk mandiri dalam berbagai bidang. Contohnya, pengelolaan Sekolah Minggu di stasi. Dengan adanya Sekolah Minggu di stasi maka anak-anak bisa dididik di tempat yang dekat, tidak harus pergi ke paroki. Selain itu, paguyuban kecil ini diharapkan juga dapat mengongkosi diri mereka sebagai Gereja dan tidak tergantung pada pihak lain.

Apa tanggapan Romo tentang paroki dengan tujuh katekis profesional?

Beberapa keuskupan hanya memiliki katekis dua sampai tiga orang. Bahkan, perkembangannya cenderung menurun. Jika paroki berani mengangkat tujuh katekis, ini merupakan suatu bukti kemandirian Gereja dalam bidang pewartaan. Paroki tersebut, dengan demikian tidak tergantung pada keuskupan. Lebih baik lagi, jika dewan paroki dan para katekis penuh waktu mengajak orang-orang yang memiliki bakat untuk dilatih menjadi pewarta sebagai katekis paruh waktu atau sukarelawan. Dengan demikian, regenerasi karya pewartaan dapat berlangsung terus.

Kegiatan katekese apa yang dapat menggerakkan umat mewujudkan motto Garam dan Terang Dunia?

Model katekese umat bisa dipakai untuk mewujudkan motto tersebut. Sebab, dalam katekese umat, peserta diajak untuk menyoroti masalah kemasyarakatan seperti politik, hukum, dan kemanusiaan. Bisa saja topik katekese umat mengambil tema, misalnya lumpur Lapindo. Dalam prosesnya, umat diajak untuk menjadi terang dan garam pada masyarakat korban lumpur tersebut. Kemudian, umat diajak bersikap sebagai seorang pengikut Kristus menghadapi orang lain yang menderita.

Akhirnya, umat disadarkan untuk peduli dan membantu mereka. Misalnya, mereka bersama-sama mengumpulkan uang dan diberikan sebagai sumbangan. Alangkah indahnya jika para korban dapat mengatakan, ”Wah orang Katolik itu kok baik banget…”

Jika seperti ini, kumpulan orang-orang yang diberi katekese dapat mewujudkan terang sekaligus garam bagi kehidupan orang lain. Ini adalah contoh konkret yang tidak terlalu sulit. Tentu dalam pelaksanaannya, karya katekese perlu bekerjasama dengan bidang lain, seperti bidang liturgi dan bidang pelayanan sosial.

A. Nendro Saputro

0 Response to "Katekese Lumpur Lapindo"

Posting Komentar