Mas Tamvan on Facebook!

>

Gereja Algonz Darmo Satelit: Dibangun dalam Skala Besar

blogger templates
Sungguh, sebuah perjalanan panjang berdirinya Gereja Aloysius Gonzaga (Algonz)
Darmo Satelit. Berawal dari Misa dari rumah ke rumah, lalu di gedung sekolah dan
di gedung serbaguna.

Tanpa mengenal pangkat dan status sosial, bos-bos perusahaan maupun karyawan biasa, bersama-sama menurunkan andang-andang (kerangka yang digunakan pekerja bangunan) dalam gereja yang sedang dibangun itu. Mereka melakukannya pada malam hari, karena besok malamnya digunakan Misa Malam Natal, 24 Desember 1986. “Perasaan saya waktu itu menangis gembira,” kenang Tarcisius Darmadi, Ketua Dewan Paroki Algonz yang pertama.

Kerja bakti tersebut merupakan rangkaian tahap akhir dari usaha kerjasama umat Paroki Algonz dalam mewujudkan tempat ibadat mereka. Awalnya, mereka menyelenggarakan Misa berpindah-pindah tempat, mulai dari menumpang di rumah umat secara bergiliran. Kemudian, mereka mengontrak rumah dan akhirnya berhasil membangun gedung serbaguna. Gedung tersebut sekarang dipergunakan untuk sekolah Karitas.

Setelah tanah di Jalan Kupang Indah 9 yang dibeli umat ditukar guling dengan tanah milik developer Darmo Satelit Town yang berada di Jalan Satelit Indah I, maka pembangunan Gereja St Alyosius Gonzaga dimulai.

Surat persetujuan

Pembangunan gereja dimulai dengan pembentukan panitia pada 11 Januari 1984. Kemudian, atas usaha panitia, pada 26 Januari 2011 turun Surat Persetujuan dari Walikotamadya Surabaya. Maret 1984, dua gambar alternatif gereja yang dilengkapi dengan konsep dasarnya dibuat. Tepat pada 6 April 1985, surat ketentuan sempadan dan syarat-syarat zoning diperoleh dari Dinas Perencanaan dan Tatakota Surabaya. Berdasarkan surat-surat tersebut, peletakan batu pertama yang dilakukan Mgr A.J. Dibjokarjono Pr, Uskup Surabaya waktu itu, dapat dilaksanakan pada 6 Oktober 1985.

Darmadi menuturkan, H.J. Riadi yang diberi tugas mengurus surat perizinan pernah putus asa karena Izin Mendirikan Bangunan (IMB) sangat sulit diperoleh. Permintaan persyaratan dari setiap instansi terkait sudah dipenuhi, tapi usahanya kandas. Kesulitan ini diketahui Vinsent Jensen, seorang pengusaha ekspedisi yang sudah paham pola kerja instansi pemerintah.

Dengan berbekal mesin tik, kop surat, dan stempel, Vinsent, H.J. Riadi dan Subiyanto mengurus IMB tersebut sampai selesai. Akhirnya, pada 27 November 1985, surat tersebut turun dari Pemda Kotamadya Surabaya.

Meskipun proses pembangunan belum selesai, pada 24 Desember 1986, gedung gereja dipaksakan untuk Misa Malam Natal. Setahun kemudian, 22 November 1987, gedung gereja yang berdiri di areal tanah seluas 700 meter persegi di Jalan Satelit Indah I Kav HN 1 Surabaya ini diresmikan Mgr A.J. Dibjokarjono Pr bersama Walikota Surabaya, dr Purnomo Kasidi.

Bersembah sujud

Gereja Algonz dibangun dalam skala besar. Diharapkan, manusia di dalamnya akan merasa kecil, termasuk juga merasa kecil di hadapan Allah.

Di lantai satu, bangku-bangku gereja disusun dalam bentuk setengah lingkaran. Bentuk ini diharapkan dapat meningkatkan komunikasi dan saling sapa antarumat. Sedangkan bentuk gereja dibuat segi delapan mencerminkan sifat penerimaan yang terbuka dan bersahabat dalam damai Tuhan. Hal ini juga menandakan bahwa umat Paroki Algonz mau menanggapi sapaan Allah dalam kebersamaan yang dinamis dan terbuka.

Menurut Darmadi, nama St Aloyius Gonzaga diusulkan Romo Uroto dan H.J. Riadi sebagai nama pelindung gereja. Nama tersebut diambil dari nama baptis Mgr Aloysius J. Dibyokarjono Pr. “Pertimbangan pemilihan nama ini adalah sebagai penghargaan dan penghormatan secara khusus kepada Mgr Dibyokarjono yang telah mendorong dan menyemangati panitia pembangunan dalam mewujudkan gereja ini,” kisahnya.

A. Nendro Saputro

0 Response to "Gereja Algonz Darmo Satelit: Dibangun dalam Skala Besar"

Posting Komentar